Ketika aku sampai di sekolah ini, tak kusangka aku melihat sesuatu yang sangat ingin kulupakan.

Kenangan pahit itu seolah diputar bagai potongan gambar per episode dalam sinetron dan menyergapku kembali saat seorang Indra membacakan puisi yang beralirkan Gibranisme yang sangat ia sukai di aula sekolah dalam lomba puisi amatir. Hampir saja air mataku menetes, segera saja aku menghapusnya dan mengikuti tepukan di kanan kiriku.

Sungguh tak kuduga akan menemukan seorang Andi yang lain, yang membuatku bertanya akan sakit lagikah hatiku ini? Aku jauh2 pindah dari Banyuwangi hanya untuk melupakan Andi, ya Andi, yang membuat hatiku tertoreh luka berkali-kali setiap dia berjalan di depanku dengan Widha, cewek sialan itulah yang meluluhlantakkan hubunganku dengan Andi.

Aku meninggalkan aula itu.

“Vi, Violet!”, seseorang berseru kepadaku.

“INDRA?”

“Vi, menurut kamu tadi bagus nggak?”, tanyanya.

“Apanya?”

“Puisiku donk, lumayan kan?”

“Hmm, iya. Udah?”, tanyaku.

Sorot mata Indra memancarkan sesuatu yang tajam dan lembut, aku tak mampu menatapnya lagi.

“Vi, kamu kenapa sih? Padahal aku cuma mau bilang …. A..a..ku suka kamu, Vi!”, rasa dingin yang menusuk seolah kembali menyerangku, aku melihat kebimbangan terpancar dari matanya akan sikapku ini.

Dia memeluk ku dengan erat lalu berkata, “Vi, aku nggak butuh jawaban dari kamu. Aku cuma pengen kamu tau perasaanku. Sejak kamu datang aku seolah menemukan arwah pujangga dalam diriku lagi, kamu buat aku bangkit lagi dari kubur.”, Indra tersenyum.

“Nu..nuri ? Nuri mau kamu kemanakan?”, aku lega, akhirnya ada yang bisa kukatakan setelah dadaku bergetar hebat, dia masih memelukku dengan erat.

“Vi, Nuri hanyalah tetanggaku, dia cuma sering bareng aku naik angkot, itu cuma kebetulan!”,

“Tapi aku rasa dia suka sama kamu, Ndra! Ndra, lepasin aku please!”.

Aku meronta seolah aku nggak suka sama pelukannya padahal nyaman banget, ingin rasanya terus begini. Dia melepaskanku.

“Ndra, mungkin aku suka sama kamu, tapi aku takut aku suka sama kamu karena kamu mirip dia!!”, teriakku tertahan.

“Dia?”,Indra tertegun.

“Iya, dia yang kukira Mr.Right-ku. Aku nggak mau salah lagi. Aku nggak mau terluka lagi!”, air mataku tiba-tiba berjatuhan.

Indra menyentuh bahuku lalu membiarkanku menangis di pundaknya.

“Kau mirip dengannya, Andi, tidak secara fisik. Caramu berbicara, selera humormu, bahkan desahan nafasmu saat kau disampingku terasa sama, juga..juga seorang pujangga yang tersembunyi di dirimu dan dirinya!”, aku berusaha menghapus air mataku.

“Jangan kau hapus, menangislah kalau itu bisa meringankan bebanmu, ceritakanlah padaku bila kau mampu. Anggaplah aku sungai yang mengalir untuk menampung tangismu?”, dia berkata seolah mencoba memahamiku, sepertinya aku nggak punya pilihan lain.

Setelah mengambil nafas panjang aku mulai bercerita……..

“Andi adalah teman sekolahku, aku mulai mengenalnya saat ia dan aku adalah salah satu pengurus OSIS. Mula-mula aku hanya kagum padanya, pada caranya mengambil suatu keputusan. Semakin lama kami semakin akrab, dan yang membuatku sadar akan rasa sukaku ini adalah seorang pujangga yang hadir di balik wajah cengengesannya dan keromantismenya saat bersamaku, saat dia menunjukkan sebuah karyanya padaku. Sejujurnya pada saat bertemu dengannya, aku merasa dia cocok berprofesi sebagai pelawak, mirip kesanku pada saat bertemu denganmu!”, sekilas aku menatap mata Indra yang penuh dengan rasa penasaran lalu kembali pada ceritaku.

“Aku sama sekali tak menyangka bahwa dia benar-benar menyukaiku, pernyataannya seolah menjungkirbalikkan antara impian dan kenyataan. Juga caranya mengatakan itu. Malam setelah rapat OSIS itu, dia mengajakku ke suatu tempat yang tak pernah kutahu namanya, padang rumput yang hanya beberapa hektar, di sekitarnya adalah ladang tebu dan diatasnya bertaburan bintang-bintang. Kami mulai mengobrol dan semakin terlarut dalam harmoni sang bintang. Lalu pada suatu momen, wajah kami saling berhadapan dekat sekali, dia menciumku”

“Dan pada saat itu sebuah kembang api meledak dalam hatiku, saat kami saling menyadari dia memalingkan muka dan berkata “Sori, sori Vi! Aku nggak bisa tahan lagi, perasaanku padamu bagai arus yang tak terbendung, Aku..sayang kamu!.”

“Wajahnya merah sekali, dia selalu penuh kejutan. Aku semakin banyak menemukan sisi dari dirinya. Tapi semuanya seolah hilang ditelan malam saat seorang Widha hadir diantara kami. Caranya mendekati Andi membuatku muak, dan aku lebih muak lagi dengan cara Andi menanggapinya. Setelah ujian berakhir, aku melihat Widha duduk di pangkuan Andi tepat di depan mataku, Aku menampar si cewek brengsek itu, saat itulah kami putus.”

“Aku nggak mau lagi denger penjelasan Andi. Dia sudah bukan Mr.Right-ku lagi. Dan aku memutuskan pindah kesini. Tapi sepertinya takdir nggak mau melepaskanku dari bayangan Andi!”, kuakhiri ceritaku dan menatap Indra.

Dia mengelus rambutku, menatapku, mencium dahiku seolah berkata jangan khawatir dan beranjak pergi dari tempat itu. Bye..bye, Ndra. Akupun beranjak pergi dari tempat itu , dengan arah yang berlawanan.

Prom night kelas III besok akan diadakan, dua hari yang lalu aku melihat Indra berjalan berdua sama Nuri. Dasar cowok ! !

Senang rasanya bisa lulus, lulus sekolah dan lulus dari permasalahan, tapi entah mengapa terasa ada yang mengganjal hati.

Dengan langkah gontai aku memasuki gedung yang terlihat megah itu, dan melihat acara2 yang membosankan itu. Sampai pada akhir acara, ” Sekarang kami tampilkan pemenang pembaca puisi amatir dari kelas 3IPS2, Indra Luthfi Wibisono”, seluruh gedung bergemuruh dengan tepuk tangan. Separuh dari puisi yang dibacakannya hanyalah humor segar yang tak berujung. Tapi pada baris-baris terakhir dia mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya sebagai pujangga. Membuat semua yang hadir menjadi terharu, bahkan tak sedikit yang menitikan air mata.

Setelah puisinya terbaca, Indra berkata “Hari ini, aku berdiri disini sebagai pembaca puisi amatir terbaik adalah karena seseorang.?, aku mendongak menatapnya.Dia yang sangat kusayangi, sekarang aku akan bertanya kembali kepadanya, Violet dari kelas 3IPA1, bisakah kau beri aku kesempatan untuk mencoba menjadi Mr. Rightmu?”, aku tersentak.

Semua mata tertuju padaku, dan seseorang memberikan mic.

“Aku..sekali lagi aku minta maaf, aku bener-bener nggak bisa.”, lalu dengan ragu-ragu aku berkata “nggak bisa membohongi diriku kalau aku sayang kamu”.

Seluruh ruangan bersorak, kulihat Indra berlari dari tengah panggung dan memelukku dengan erat.
Berakhirlah kisah ini dengan Nuri yang melongo menatap kami berdua.

By : Reandra Re_@

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh atau tempat itu hanyalah kebetulan yang disengaja

Facebook Comments Box
My Mr. Right