Kali ini tulisan tentang routing, ringan-ringan saja, maklum saya newbie™. Ya, katakanlah saya sedang kehabisan ide, apalagi kita tahu ini sudah tanggal tua (ga nyambung). Yang jelas, saya hanya ingin share saja, kebetulan teman saya, beberapa helpdesk instan di NAP sebelah yang masih bingung dengan pekerjaan barunya.


Kita mulai saja. ***uhuk uhuk***

Pada dasarnya, coba analogikan sebuah host sebagai seorang manusia. Lalu anggap saja sebuah jaringan LAN sebagai sebuah rumah. Rumah berada di gang sempit yang terhubung pada jalan protokol. Jalan protokol terhubung ke sebuah jalan raya, bisa jadi highway, atau malah jalan propinsi. Itulah WAN, secara simpel, dimana setiap host terhubung satu sama lain dalam suatu kota, meskipun tidak saling mengenal secara langsung.

Setiap polisi di pertigaan, perempatan, junction, dll kita analogikan sebagai sebuah router, penentu arah. Sebaiknya kita tidak perlu memikirkan U-turn (bhs indonesianya apa?), karena saya belum menemukan analogi yang tepat. Loopback-interface kah? Ah entahlah. Ada ide?

Suatu ketika, Roy Simanjuntak ingin bertemu Suryo Tampubolon di rumahnya. Yang harus dilakukan pertama kali adalah menuju default gateway (pintu) yang mengarah ke luar rumah. Ketika keluar rumah, tanya polisi di gang, Roy mendapati bahwa di gang “sempit” tidak ada orang bermarga Tampubolon. Maka Roy pun diarahkan ke default gateway, yakni persimpangan gang sempit dengan jalan “berbatu”. Rupanya polisi di jalan berbatu tidak menemukan marga Tampubolon. Perjalanan dilanjutkan ke default gateway, jalan “protokol”. Polisi di jalan protokol mengatakan bahwa marga Tampubolon ada di jalan “lurus”, maka pergilah Roy ke jalan lurus. Polisi di jalan lurus berkata bahwa marga Tampubolon ada di gang “bau”. Saat di gang bau, preman langsung menunjukkan rumah keluarga Tampubolon. Rupanya Roy harus mengetuk pintu rumah Tampubolon, karena ternyata pake NAT. Roy pun akhirnya dapat bertemu Suryo dan memperoleh putra bernama Roy Suryo.

Secara teknis, marga Tampubolon ber-ip 202.202.202.0/29 dan Suryo sendiri ber-ip 202.202.202.5. Pak Polisi semuanya menggunakan static-routing, kebetulan Pak Polisinya gaptek.

Jaringan itu sendiri luas, sepanjang lingkaran bumi. Tentunya jalan yang ada semakin banyak. Ibarat jalan darat, laut, dan udara, ada banyak media yang digunakan dalam transmisi data. Sebut saja kabel, microwave, radio, dll. Seperti halnya di dunia nyata ada jalan macet (bandwidth penuh), jalan memutar (multi-hop), jalan bypass (one-hop), sampai jalan tertentu untuk daerah sulit dijangkau (remote-site).
Untuk itu diperlukan polisi yang lebih mumpuni. Polisi itu harus mampu berbahasa global, tidak ketinggalan teknologi, dan tidak mudah stres. Ya, routernya harus mampu melakukan routing misalnya BGP, dan mampu menangani traffic yang dikenakan padanya.

Untuk ke rumah Suryo Tampubolon di California-US, Roy Simanjuntak memiliki beberapa pilihan. Dia bisa lewat Australia, Singapura, HongKong, London, langsung ke San Diego-US, atau lainnya. Terserah. Kebetulan karena memang Roy termasuk kaya, dia memiliki sangat banyak pilihan. Rumahnya memiliki landasan pesawat dengan jet pribadi, jalan bawah tanah yang langsung terhubung ke jalur-cepat-bebas-hambatan, jalur kereta bawah tanah dengan shinkansen-nya, transporter satelit, pokoknya lengkap (kaya jee…). Semuanya milik pribadi, alias dedicated line, tak lagi fakir bandwidth dalam gang sempit dan jalan berbatu.

Untuk itu, Roy bertanya pada polisi pribadinya, jalur manakah yang tercepat ke rumah Suryo. Setelah memperhitungkan bandwidth, delay, dan jumlah hop yang dilalui, akhirnya polisi menentukan jalur dan media yang akan digunakan, yaitu jalur shinkansen bawah tanah melalui Jakarta, Singapura, HongKong, San Diego, California, semua dengan kecepatan cahaya. Seratus mili-detik berikutnya, Roy sudah bersua sahabat lamanya, Suryo.

Lho, Roy kan orangnya mbeling dan keras kepala. Apa iya, dia akan menuruti nasihat polisi pribadinya? Ya terserah saja, apalagi saat itu Roy ingin melihat bumi dari atas selama perjalanan. Dengan route-map, dia memaksa pergi ke California dengan transporternya, via satelit, sehingga jalur dia arahkan langsung ke California. Sampailah dia disana walau dengan waktu tempuh yang lebih lama, yaitu 300 mili-detik (karena harus “naik” ke satelit dulu).

Eits, Roy dan Suryo kan memang kaya, memiliki infrastruktur jaringan yang semuanya dedicated. Ya, kalo fakir bandwidth, maka tugas polisi jadi lebih berat, harus dibantu oleh network-engineer seperti saya sebagai brainware… :D

Facebook Comments Box
Internet, Sebuah Analogi

7 thoughts on “Internet, Sebuah Analogi

  • 23 May 2006 at 9.50 am
    Permalink

    tumben..gak norak.. :-p

  • 23 May 2006 at 11.47 pm
    Permalink

    Lho perasaan menurutku ini malah norak……..ada Roy Suryo pula

    Hi Roy!

  • Pingback:Surf.ro Blog Verification

  • 6 July 2006 at 3.20 pm
    Permalink

    Ngantuk beraaat!!

  • 10 January 2007 at 7.44 pm
    Permalink

    yg kamu tulis itu analogi????

    jawab jawab jawab….WAJIB !!!

    AK BTH BGT NECH…

    ADA PR B.INDONESIA

  • 10 January 2007 at 10.46 pm
    Permalink

    #5 Iya, Mas Heda, paling tidak itu analogi yang menurut saya cukup mendekati

  • 1 May 2010 at 9.44 am
    Permalink

    jadi suryo tampubolonnya tinggal di US toh?
    kenapa gak suryo tampubolonnya aja yg tinggal di Indonesia, soalnya Suryo Tampubolon (saya) kan tinggal di Indonesia. hahahaha Lam Kenal bro…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.