“Rama, kamu besok bisa keluar”?

Suara merdu terdengar di seberang ujung telepon itu. Rama senang dengan ajakan Indah, cewek cantik, kaya, dan populer di sekolahnya. Kata `ya` pun meluncur dari mulutnya Rama suka pada Indah, hanya saja nama Anita terus menempel di dadanya.

Tiba-tiba saja pikirannya terbang pada Anita, cewek bodoh, sederhana dan manis. Mudah saja bagi Rama untuk menggaet cewek itu, tapi rasa persahabatannya dengan Rico membuat ia mengorbankan cintanya pada Anita. Ia lebih cepat akrab dengan Indah dibanding Anita yang notabene teman sekelas sejak kelas 2 SMU hingga kelas 3IPA2 ini. Dari dulu Rama sudah mengenal Indah sejak SMP hingga saat ini, tapi Rama tak bisa membohongi dirinya sendiri.

Rico, nama yang ia sesali karena telah mengenalnya. Seandainya dulu ia tidak berkenalan dengan Rico mungkin saat ini dengan gampang ia mendekati Anita, sekarang ia harus membantu Rico untuk mendapatkan Anita. Batinnya tersiksa karena harus membantu sahabatnya mendapatkan cewek yang ia sukai. Entah kenapa ia bisa menyukai Anita, mungkin karena mata Anita indah dan ramah.

“Aah,aku tak tahu”, pikir Rama.

Kelebihan Indah tak membuat ia melupakan Anita, lalu apa yang harus ia lakukan?

TIN..TIN suara bel mobil Indah, dengan tangkas Rama meloncati pagar rumahnya yang merupakan cara favoritnya untuk meninggalkan rumah.

“Yoo, mau kemana nih kita?”, tanya Rama
“Gimana kalau ke Aqua Bay Marine aja!”, jawab Indah lembut.
“OK, pantai yang baru-baru ini dibuka,ya?”, sahut Rama.
“Mm tapi kamu aja yang nyetir yach?”, tanya Indah.
“OK..OK”

Rama cowok cakep, pinter, dan sangat baik. Mungkin setelah perjalanan ini, ia akan dapat melupakan Anita. Sesampainya di pantai, mereka jalan-jalan kesana kemari. Tapi rasanya ia tetap tak dapat melupakan Anita, gurauannya, senyumnya, keseriusannya, semua membuat Rama tak bisa dengan mudah melupakannya.

Keesokan paginya, Rama menerima berita yang sangat mengejutkan. Rico ditolak oleh Anita. Jelas aja Rama senang, tapi kesenengannya disimpan dalam hati.

“Emang kenapa kok kamu bisa ditolak, Co?”, tanya Rama.
“Nggak tahu, padahal tuh anak kan lagi jomblo, harusnya dia ngerasa beruntung ada yang suka sama dia”, kata Rico seakan memprotes keputusan Anita.
“Trus, sekarang kamu mau nyerah buat ngedapetin Anita?”, tanya Rama harap-harap cemas.
“Ya, nggak lah. Aku tetep suka sama dia, nggak semudah itu aku melupakannya”, jawaban Rico membuat Rama semakin cemas.
“Kamu sendiri sama Indah gimana?”, lanjutnya.
“Aku ama dia cuman temen kok !Lagi pula..”, tiba-tiba Rika melintas di depan mereka berdua. Rama mempunyai ide yang aneh.
“Lagipula apa?”, tanya Rico.
“Aku suka sama Rika”, kata Rama lirih.
“Sableng kamu ! Sejak kapan kamu jadi suka sama Rika?”, tanya Rico yang terkejut
“Emm .. sejak dulu dulu dulu.”, jawab Rama seenaknya.
“Ram, kalo becanda jangan kelewatan nich!”, sahut Rico
“Ah, aku nggak becanda. Rika itu manis kaya` kuching sih!”, kata Rama
” Ha..ha..ha. Kamu mau mulai jadi playboy nih?”
“Ah, nggak juga. Lihat aja, aku mau PDKT ama dia!”

Kali ini Rico bener-bener nggak ngerti kelakuan sahabatnya itu, selama ini rasanya Rama hanya suka dan deket ama Indah seorang.

“Mungkin Rama cuma main-main?”, pikir Rico.

Keesokannya Rama mulai melancarkan aksi PDKT-nya, mulai dari ngajak ngobrol tentang pelajaran sampe pura-pura perlu sesuatu sama Rika, tapi semuanya nggak berjalan semulus apa yang Rama pikirkan. Rika termasuk cewek yang cukup dingin tapi ramah meladeni semua pertanyaan Rama. Dalam benak Rika, Rama adalah seorang cowok yang cool dan supel.

“Jadi, nggak ada salahnya temenan sama dia”, pikir Rika.

Beruntung Indah lain kelas ama Rika, jadi dia nggak sempat liat kelakuan Rama yang super bodoh itu. Rico bingung tapi dia nggak peduli mau Rama deket ama Rika kek, Indah kek, kan setiap orang punya kehidupannya sendiri, yang penting Anita harus dia dapetin. Di sisi lain, Rama mulai deket ama Rika. Di sisi yang lain pula ia mulai menderita setiap kali harus mendengar ocehan Rico soal Anita.

Pernah suatu kali Rico nyeletuk “Ram, jangan-jangan kamu suka sama Rika gara2 taruhan?”

“Ngaco, lu!”, cuma itu jawaban yang ia terima dari Rama. Saat Rico bilang kaya` gitu pengen rasanya Rama bilang “Aku suka Rika cuma karena pelampiasanku sama Anita, Aku sayang banget sama Anita!”, cuma aja Rama nggak berani ngomong.

-###-

“Ram, pinjem PR matematikanya donk!”, suara lembut yang membuat Rama salah tingkah.

Anita berdiri di sebelahnya, memang Anita sering pinjem PR Rama. Itulah yang membuat Rico menggerutu ama Rama. Padahal Rico duduk sebangku ama Rama.

“Kenapa kamu terus sih yang dipinjemin Prnya?”
“Itu sih, jelas. Punyaku jawabannya udah 100% betul, sedangkan punyamu tidak terjamin”, jawab Rama dengan setengah becanda.
“Emangnya makanan apa ?nggak terjamin?!?kata Rico

Masalah mulai timbul ketika di belakang lembar buku Anita ditemukan tulisan I-RA.

“Tuh, kan Ram! Apa yang aku bilang, Anita suka sama aku! Tulisan ini kecil banget, ya!”, ketika Rico berkata begitu hati Rama seakan hancur, nggak bisa disambung lagi.
“Wah, selamet dech ! Cepet aja kamu temuin dia “, usul Rama dengan wajah yang suram. Rico pergi menemui Anita, sedang Rama pergi buat minta surat ijin pulang ke guru. Rasanya Rama nggak sanggup mendengar berita mereka jadian dari Rico, hatinya udah hancur lebur. Bagi Rama dunia ini udah kiamat.

Sore itu Indah telpon, karena males Rama nyuruh pembantunya buat bilang dia nggak ada apalagi kalo Rico yang nelpon. Malemnya, walau agak lama dengan dugaannya akhirnya Rico telpon juga. Rama nggak sanggup nolak soalnya Rico bilang itu penting.

“Ram, kamu suka sama?Anita?”, tanya Rico mengagetkan.
“Ahh, nggak minat lagi ! Aku kan suka sama Rika”, jawab Rama berbohong, hatinya teriris.
“Bener, nih ? Kamu nggak bohong?”, tanya Rico tak percaya.
“Yee, sueer dech ! Nggak mungkinlah aku suka sama Anita yg bloon itu”, jawab Rama meyakinkan.
“Emang kenapa sich?”, lanjutnya dari sana terdengar hembusan nafas lega Rico.
“Eh, Ram. Anita ternyata suka sama kamu, sahabatku.”, kata Rico lirih. Kata-kata Rico itu bagai petir di siang bolong.
“Baguslah ! Kamu nggak suka sama dia, emang kamu sahabatku yang paling baik!”, lanjutnya tanpa memperhatikan nada bicara Rama yang sedikit bergetar.

“A..apa ? Mana mungkin! Singkatan inisial itu jelas nama kamu bukan inisialku!”, jerit Rama tertahan
“Itu bukan inisial nama, sebenernya dia mau nulis namamu RA..dan sambungannya nggak berani dia tulis. Aku bener-bener kecewa ternyata dia suka sama kamu sahabatku, jika saja itu orang lain aku mungkin tak kan begitu peduli. Mungkin ini salahku mencintainya tanpa melihat dan memikirkan perasaannya. Cintaku terlalu dalam sehingga membutakan mata dan pikiranku, tak melihat betapa dia memandangmu dengan berbeda. Di matanya hanya ada kamu, bibirnya bergetar saat menyebut namamu.”

Di ujung sana Rama membatu mendengar semua penuturan Rico dan seribu sesal di dadanya, rasanya ia tak sanggup bicara lagi.

“Ram, kamu masih disana? Halo! Halo!”
“Oh, ya apa lagi?”, tanya Rama bloon.
“Emm, yaah pokoknya aku bersyukur kamu tak suka padanya”, ungkap Rico dengan hati yang tulus.

Setelah telpon Rico yang cukup menakjubkan daripada tsunami yang ada di Florida, Rama menyesal, menyesali kepengecutannya dan kesetiaannya pada persahabatan.

“Sehebat itukah rasa setiaku pada persahabatan sehingga perlu pengorbanan cinta?”, tanya Rama pada cermin yang membisu.

Cukup sulit untuk menerima kenyataan bahwa dia sama sekali pengecut. Masih lebih baik Rico yang cukup berani untuk mencintai tapi tak berbalas dibanding dirinya yang mengingkari perasaannya hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Di dalam kesedihan yang tercampur aduk, ia menemukan beberapa fakta bahwa ternyata ia tak menyelamatkan Rico, yang ingin dia tolong sebenarnya hanyalah dirinya sendiri, harga dirinya yang tak bisa menerima jika Anita menolaknya, harga dirinya yang menolak mengakui takut melukai dirinya.

Selang beberapa hari keluarga Anita pindah ke Yogyakarta. Diikuti perasaan menyesal Rama dan penantian Rico yang tak kunjung akhir. Sore itu di bandara Rama berjanji akan mengubur perasaannya pada Anita dibawah es hatinya, dan akan mencoba menemukan Anita-Anita yang lain, dan bila saat itu tiba ia tak `kan pernah mencoba untuk mengingkarinya.

By : Reandra ?Re_@?
Dedicated to : Semua cowo` pecundang sejati
“Jangan jadikan dirimu lebih pecundang dari ini, PEACE!!”

Facebook Comments
Pecundang Sejati

Comments are closed.