Aku kadang-kadang merenung (ternyata bisa), mengingat masa lalu, masa kecil di kampung halaman. Walau bagaimanapun, masa lalu -terutama masa kecil- itu indah. Akan selalu indah, sepedih apapun, sesuram apapun. Kenapa? Karena dari masa lalu kita bisa bercermin, sudah lebih baikkah kita kini? Atau sedang mengalami degradasi?


Sebenarnya yang ingin aku tulis ini tidak ada hubungannya dengan paragraf di atas. Anggap saja intermezzo. Aku hanya ingin mengobati kerinduan akan keluargaku yang menyenangkan, Ayah, Ibu, dan kedua saudara perempuanku. Hi There! :-d

Saat kelahiranku, ayah sedang sekolah di luar kota, di Surabaya. Sudah menjadi tradisi keluarga Jawa, ari-ari harus ditanam oleh ayah kandungnya. Karena ayah tidak bisa datang, jadi ari-ariku ditanam oleh salah seorang tetangga. Lagi-lagi ngga ada hubungannya……aku cuma ingin cerita aja.

Layaknya anak laki-laki pada umumnya, saat kecil aku nakal, bandel, dan ndableg. Saat remaja dan mulai insyaf, aku paling senang mendengarkan cerita Pak Dhe dan Bu Dhe tentang betapa bandelnya ayahku dulu. Biasanya ayah berusaha membela diri, bahwa sejak kecil Beliau tidak suka dengan penerapan peraturan dalam keluarga priyayi yang darah biru (konon kami keturunan Keraton Gresik, :-?? ). Pergaulan dibatasi, terlebih pergaulan dengan penduduk non-priyayi, apalagi Beliau hobi main di sawah bersama teman-temannya. Rupanya ayah tidak sadar, sejak kecil pun Beliau membatasi pergaulanku dengan anak kampung :-< .

Kami berdua tipe pendebat yang ngeyel, kadang cenderung memaksakan kehendak dan mau menang sendiri :d. Apalagi jika yang diperdebatkan menyangkut hal-hal favorit masing-masing. Lalu bagaimana jika kami berdua yang berdebat? Komentar kakak perempuanku : “Kedua orang ini kalau bertemu selalu ramai”. Ya, sejak 4 tahun yang lalu, aku memang merantau-mencari-ilmu™, paling banter akhir-akhir ini hanya perdebatan di dalam mobil ;)).

Aku dan ayahku merupakan salah dua tipe lelaki jaim dan paling tidak suka memuji orang lain. Apalagi merayu :)). Kadang, sebaik apapun orang itu, jikalau bisa jangan diungkapkan dengan kata-kata. Sure. Kami cukup introvert, namun sangat terbuka pada siapapun yang sudah dikenal baik. Cukup banyak yang terkecoh dengan penampilan awal kami :>.

Meskipun bukan pembalap, kami suka ngebut. Mobil atau sepeda motor, yang penting bermotor :d. Sepertinya ini bukan karena darah muda lagi, karena ayahku lahir tahun 1962. Konon, nenekku dulu menghancurkan-dengan-sukses piala yang diperoleh ayahku dalam sebuah event balap. Untuk kasusku, mungkin bukan karena faktor keturunan atau gen. Kemungkinan besar aku suka menyetir kebat-kebit karena sejak kecil saat perjalanan dengan mobil (ayah “sedikit” ngebut), aku selalu duduk di kursi depan, memacu adrenalin :p. Secara psikis pasti terpengaruh.

Walau demikian, ada beberapa perbedaan besar di antara kami, terutama saat tidur. Suara sekecil apapun bisa membuat Beliau terbangun, aku sebaliknya 8-|.

Apapun itu, Ayahku, sosok yang selama ini sering menjadi inspirasiku.

Facebook Comments Box
Like Father Like Son

2 thoughts on “Like Father Like Son

  • 29 May 2006 at 11.52 am
    Permalink

    syukurlah
    Setidaknya ayahku lebih baik

  • 4 February 2008 at 7.37 pm
    Permalink

    o gosh..i found it… **usep kringet…tbayang “rodeo puncak” **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.